Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Sejenak Lamun

Pagi sejak daun berbagi embun Mentari jadi penolong si rabun Serupa meski tak sama dengan kemarin Terlihat nyawa dan raga masih terjalin Berbahasa dengan Sang pemilik diri Melihat dalam buram yang dimiliki Bersyukur air masih milik bumi Dan udara masih menghidupi hari Melangkah kecil sedikit pasti Mencari zona yang lebih tinggi Sekali ini jengah mengurusi impian Hanya ingin diam di pemberhentian Sejenak menenggak segelas harapan Seorang teman mengajaknya berjalan Bercerita soal hari hari kedepan Sesekali bersama mengolah impian Sudahkah senja ini menetukan tujuan Bersamaan mentari menghabiskan nyali Dalam lamun mereka hanya bertatapan Dalam sadar akan menghabiskan hari Ya, itulah sejenak lamun di penghujung hari

Narasi Berarti

Dalam ini aku tak percaya rasi aku hanya sedikit percaya pada narasi narasi tentang arti yang hakiki dan cinta yang abadi pun hanya bisa dibuka dengan ujung jari tetiba mengubah alur cerita kini Dulu aku tak percaya pada yang abadi, apalagi memberi dengan murni suci, apalagi suci untuk apa aku cari aku saja masih bersetubuh dengan caci, dan sedikit liarnya fantasi Bersendau gurau hanya menutupi benci, makin panjangnya durasi mewakili hancurnya remuk diri tak ada lagi sebuah apologi bahkan hanya untuk sebuah pelukan jari Berbeda dengan waktu kini narasi itu bukan hanya narasi bagiku kini narasi itu alur pasti bagi mereka yang tak berhenti mempelajari L.S Wijaya

Terlambatkah Kata-Kata

Merasakan angin diujung lidah, merebah hanya untuk meredam amarah, kemudian terdiam dan pasrah, semoga waktu tak memaksaku bersumpah. Menggambar bumi dengan ujung jari, berlari menghampiri teman sejati, tak berselang lama bangun dari mimpi, semoga waktu tak memaksaku untuk menghindari. Berjalan di tepian jurang dengan sebelah kaki, bersuara hanya untuk meredam sunyi lalu tersadar semua ini hanya tragedi semoga waktu tak memaksaku meratapi. Memandang dalam kejauhan lamunan membelah wacana menjadi ujaran setelah semua kembali pada kewarasan semoga waktu tak memakasaku ambil peran. Bertemu kembali di tepian daratan, melempar tanya untuk memecah heran, selanjutnya sadar akan sebuah peran semoga waktu tak memaksaku melanjutkan perjalanan. Terlambatkah Kata-kata(?)

Menara Jaga #2

Dalam alam pikirku tak ada rahasia ataupun yang tersembunyi meskipun bagi khalayak itu hanyalah mimpi bagi mereka itu hanya rasi, bagiku perwujudan janji Kerabunan kian menjangkiti, mereka tak melihat tirani tangan besi mulai membunuh para penunggu pagi pagi itu tetap ada meskipun akan terlahir dari beda dimensi tidak membayar harga sama saja dengan mati melawan hanyalah unjuk harga diri tidak ada arti pagi hanyalah untuk mereka yang berdiam diri menanti janji Di menara jaga aku terkadang bergidik ngeri di luar perlindungan pembantaian sudah terjadi hanya bisa berdiam diri menanti Sang empunya Pagi

Tak Dapat Mengalihkan

Sekali lagi mengubur diri dalam keraguan, baru kali ini ada yang berat dan begitu berkesan ya... berat memulai perjuangan dan berkesan melampaui angan. ketika tak bisa lagi memindahkan angan seakan hanya kau yang jadi tujuan.. padahal seharusnya hanya pemberhentian dan penolong dalam perjalanan