Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Prosesor dan Agresor

Kiri dan kanan semua punya egonya sendiri selera adalah bagian yang hakiki, itu kata kanan intuisi adalah urusan nanti, itu kata kiri mencari panggung untuk berperan, oh itu kata kanan.. rasionalisasi mimpi yang di kalkulasi, oh itu kata kiri.. ketika badai, oh aku tau di situ tetap ada harapan.. sekali lagi itu kata kanan ketika badai, oh aku tau harus melindungi diri.. sekali lagi itu kata kiri yang telah menghilang, kuharapkan sesuatu kan menjelang.. itu hanya kata kanan yang telah menghilang, kuakan mencari lagi tanpa henti.. itu hanya kata kiri jalan keluar adalah apa bukan bagaimana... oh itu menurut kanan jalan keluar adalah bagaimana bukan apa... oh itu menurut kiri mengeruk materi, tak pentinglah itu kata kanan menjaring imajinasi, tak pentinglah itu kata kiri melihat bumi ini dari berbagai sisi dan dimensi, bukan sekedar mengukur jari-jari lingkar bumi dan mencari ruang untuk dieksploitasi... itulah kata sang kanan Lalu apa kata sang kiri tentang bumi? se...

Reruntuhan Suci

Memandangi keruntuhan Menikmati kejatuhan Merasakan kehancuran Meraba ketidak mapanan Mendengar kebiadaban Mengecap kejijikan Mencium kebusukan Itu bukan sudut pandangku Oh yang Maha Suci... Persinggahanmu kuhancurkan Andaikan aku tak ada hak, tentu semua ini tak kulakukan Apalah aku pedulikan semua kebaikan, yang ada dipikiranku hanya kejahatan Tanganku ini sarana pertunjukan kebobrokan Mulutku menahan kegeraman Mataku penuh dengan kepalsuan Telingaku selalu mendengar hujatan Kulitku menyentuh keretakan Hidungku mencium kenafsuan Lidahku mengecap kepahitan .....dan selebihnya adalah ketidak mampuan merasakan sudah, sudah jadi... jadi reruntuhan .....dan aku tak bisa membangunnya kembali

Lingkar Sepuluh

Melintas menggilas Apakah dia tahu yang mana disebut batas Aku rasa tidak jelas, tapi yang aku tau hingga saat ini sudah menembus batas Menderu menggebu Apakah dia masih seperkasa dahulu Aku tidak tahu, tapi yang aku tau hingga saat ini dia tetap bersuara merdu Menjilat menyambar Apakah dia pantas disebut dia gahar Aku tidak berkomentar, tapi yang aku tau hingga saat ini dia selalu membuat gelegar Lingkar sepuluh dan sebuah perjalanan

Menara Jaga

Entah kenapa aku sampai di perhentian ini, menanti sebuah janji dan menunggu sebuah mimpi memenuhi ambisi memang mempunyai nikmat tersendiri. Di atas perhentian ini akankah seorang laki-laki dapat menjadi pria? memandang luas hamparan asa akankah dia terlena ketika susahnya membedakan rasa dan logika berbentur realita Memandang ke belakang seolah hanya aku yang terjaga, memandang ke depan kegelapan mulai menyerang mata gila, diatas sini aku bisa melihat semua Ku kira ini hanya lintas imaji tak kusangka lintas materi apakah hanya aku yang menyadari sementara yang lain hanya mengira ini konspirasi

Berat Menjangkar

Jauh ke ufuk timur berlayar menjaring cahaya sang fajar dan pulang membawa wajar Hanya dia yang membuat aroma laut tetap segar Ikuti kompas yang menjelas meskipun tak tahu tentang batas karena hanya ingin paras tanpa waras Hanya dia yang membuat ombak laut tetap ganas Memegang lingkaran kemudi bukan lah seperti berjudi dibutuhkanlah sebuah gladi Hanya dia yang membuat biru laut tetap abadi Tidak sembarang membuang sauh yang dituju masih jauh belumlah genap separuh Hanya dia yang membuat luas laut tetap bergemuruh

Just Working Class

Gambar
Aku selalu menganggap diriku adalah bagian dari working class, di posisi apapun setinggi apapun jabatan aku selalu ingin memiliki hati dan passion seorang working class! Apa itu working class? Mengapa working class? maaf sebelumnya kalo definisi working class disini agak berbeda dengan pengertian banyak orang di luar sana, jika di luar sana mereka mereka menganggap working class hanyalah pekerja kelas bawah atau disebut dengan buruh. Pekerja kelas bawah yang digaji rendah. bagiku TIDAK! aku menganggap working class lebih dari itu. Working class adalah sebuah passion, sebuah pemikiran, sebuah idealisme.

Genggaman

Tak berjarak namun tak seiring, meraih angan hanya sebatas mimpi... ketika sang awan takut pada angin hujan di ujung jari hanya sebatas mimpi Sang penari kini enggan teriring musik ini demikian sang gembala menganggurkan kecapi menyerah.. akui saja dengan mudah lalu pasrah biarlah dia yang menentukan arah Tak bersaksi namun tak dapat menyangsi yang abadi bukanlah sebatas mimpi ketika sang everest tak lagi tertinggi mendaki pun tetap memiliki arti Sang bayi tetap dilahirkan dan membumi menghancurkan tiap-tiap tirani mereka anggap itu gegabah, aku anggap itu titik cerah yang lepaskanku dari sebuah amarah

Tak Bosannya

kembali ku menggoreskan tinta ku yang belum mengering, dia berteriak padaku untuk menggegamnya dan mengikuti kemana dia ingin bukan untuk terbawa angin seperti yang akhir ini aku ingin . . ini kulakukan karena suaranya terdengar begitu nyaring dalam falsafahku yang mulai kering . . aku tahu ini baik untuk pikiranku yang mulai terkekang dan tak lagi bertaring . . dalam belantara yang mulai terjangkau peradaban dan selalu mengagungkan persamaan . ketika semua hanya tentang penaklukan bukannya bicara bagaimana itu keselarasan . dia hanya ingin aku kembali, ketika tidak ada loncatan pikiran yang terjaring